Tata Cara Sholat: Shalat Jama’ah, Imam Shalat, dan Masbuq (Tertinggal Shalat)

Bertemu lagi dalam artikel apdetinfo. Kali ini admin ingin berbagi seputar tata cara sholat. Terutama pada tema sholat berjamaah, imam shalat dan ketika masbuq. sebelum itu, jika anda belum membaca artikel tata cara sholat yang baik dan benar, sebaiknya anda terlebih dahulu membacanya. Anda bisa klik link berikut

Tata Cara Shalat: Shalat Jama’ah

Tata Cara Sholat Berjamaah

Shalat jama’ah adalah sunnah mu’akkadah kepada setiap orang beriman yang tidak mempunyai udzur untuk menghadirinya, karena dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam,

sholat jamaah

 

Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sungguh aku bertekat menyuruh pengumpulan kayu bakar, kemudian aku suruh seseorang adzan untuk shalat, dan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku pergi kepada orang-orang yang tidak ikut shalat kemudian aku bakar rumah mereka.”(Muttafaq Alaih).

Seorang buta berkata kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, aku tidak mempunyai penuntun yang menuntunku ke masjid.” Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, “Apakah engkau mendengar suara adzan?” Orang buta tersebut menjawab, “Ya, dengar.” Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,”Jawablah adzan.” (Diriwayatkan Muslim).

Sholat berjamaah lebih utama 27 derajat dibanding sholat sendiri

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata,”Sungguh kami melihat bahwa ada orang yang tidak ikut shalat jama’ah ialah orang munafik yang kemunafikannya diketahui dengan jelas. Orang munafik tersebut didatangkan di antara dua orang, dan disuruh berdiri di shaf shalat.”

Keutaman Shalat Jama’ah

Keutamaan shalat jama’ah itu besar sekali, dan pahalanya juga besar. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat jama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (Muttafaq Alaih).

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, “Shalat jama’ah itu lebih banyak dua puluh lima derajat daripada shalat seseorang di rumahnya dan dipasarnya. Jika salah seorang dari kalian berwudlu dengan baik, dan pergi ke masjid tanpa maksud lain kecuali shalat, maka ia tidak melangkah melainkan Allah mengangkat satu derajat, dan menghapus kesalahannya hingga ia memasuki masjid. Jika ia telah memasuki masjid, ia berada dalam keadaan shalat selagi shalat tersebut menahannya, dan para malaikat mendoakannya selama ia berada di tempat ia shalat sambil berkata, ‘Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, sayangilah dia, ‘itulah selama ia tidak batal.” (Muttafaq Alaih).

Jumlah Minimal Peserta Shalat Jama’ah

Jumlah minimal peserta shalat jama’ah adalah dua orang yang terdiri dari imam dan makmum. Semakin banyak jumlah peserta shalat jama’ah, maka itu lebih dicintai Allah Ta’ala, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shalat seseorang bersama satu orang itu lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian. Shalatlah seseorang bersama dua orang itu lebih banyak pahalanya daripada shalatnya dengan satu orang. Jika semakin banyak, maka itu lebih dicintai Allah Ta’ala.” (Diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Hibban.).

Pelaksanaan Shalat Jama’ah

di masjid itu lebih utama dan semakin jauh rumah seseorang dari masjid , semakin besar pahalanya sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam “Sesungguhnya manusia yang paling besar pahalanya ialah orang yang paling jauh jalannya ke masjid.”

Kehadiran Kaum Wanita di Shalat Jama’ah Kaum wanita diperbolehkan menghadiri shalat jama’ah di masjid-masjid jika aman dari fitnah, dan mereka tidak diganggu, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian larang wanita-wanita hamba Allah dari masjid-masjid Allah.” (Diriwayatkan Ahmad, dan Abu Daud).

Hanya saja, shalat seorang wanita di rumahnya itu lebih baik, berdasarkan dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Dan hendaklah mereka keluar dalam keadaan tidak berparfum.” (Diriwayatkan Ahmad, dan Abu Daud).

Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Siapa pun wanita yang menggunakan minyak wangi, maka ia tidak usah hadir shalat Isya’ akhir bersama kita.” (Diriwayatkan Muslim)

Keluar dan Berjalan Menuju Shalat Jama’ah

Bagi orang Muslim yang keluar dari rumahnya untuk pergi ke masjid, ia disunnahkan mendahulukan kaki kanannya sambil membaca doa berikut, “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah. Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari tersesat dan disesatkan, atau dari tergelincir dan digelincirkan, atau dari zhalim dan dizhalimi, atau dari bodoh dan dibodohkan. Ya Allah , aku meminta kepada-Mu sesuai hak orang-orang yang meminta kepada-Mu dan dengan hak jalanku ini, sesungguhnya aku tidak keluar dalam keadaan kafir terhadap nikmat, sombong, riya’, dan sum’ah. Aku keluar karena takut kepada kemuekaan-Mu, dan mencari keridhaan-Mu. Aku meminta kepada-Mu agar Engkau mengampuni seluruh dosa-dosaku, karena tidak ada yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Ya Allah, masukkan cahaya dihatiku, cahaya di lisanku, cahaya di pendengaranku, cahaya di penglihatanku, cahaya dikananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, cahaya di atasku, dan cahaya di bawahku. Ya Allah besarkan cahaya padaku.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).

Ia berjalan dengan tenang, dan sopan, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian datang untuk shalat, hendaklah kalian datang dengan tenang. (Berapa raka’at) yang kalian dapatkan maka shalatlah, dan apa yang tidak kalian dapatkan maka sempurnakan.” (Diriwayatkan Muslim). Jika telah tiba di masjid, ia dahulukan kaki kanan sambil berkata, “Dengan menyebut Allah, aku berlindung kepada Allah Yang Maha agung, dengan wajah-Nya yang mulia, dan dengan kekuasaan-Nya yang sejak dulu kala dari syetan yang terkutuk. Ya Allah, curahkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad, dan keluarganya. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, dan bukakan untukku pintu-pintu rahmat-Mu.” (Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah).

Ia tidak duduk hingga mengerjakan shalat tahiyatul masjid, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka ia jangan duduk hingga shalat dua raka’at.”( Diriwayatkan Muslim).

Kecuali pada saat matahari terbit, dan terbenam, maka ia langsung duduk dan tidak usah shalat tahiyatul masjid, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam melarang shalat pada kedua waktu tersebut. Jika ia ingin keluar dari masjid, ia dahulukan kaki kirinya, dan berdoa seperti ketika masuk masjid. Hanya saja berdoa dengan doa berikut, “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Mu dari karunia-Mu.”

Tata Cara Sholat: Imam Shalat

Syarat-syarat Imam Shalat Imam disyaratkan laki-laki, adil, dan faqih. Jadi tidak sah wanita menjadi imam bagi laki-laki. Orang fasik yang kefasikannya sangat jelas juga tidak sah menjadi imam kecuali jika ia penguasa yang sangat ditakuti. Begitu juga tidak sah orang buta huruf yang bodoh menjadi imam kecuali bagi orang-orang seperti dirinya, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda “Janganlah sekali-kali wanita dan orang fajir ( pelaku dosa besar ) menjadi imam bagi orang beriman, kecuali jika ia memaksa dengan kekuasaan, atau cambuknya dan pedangnya yang ditakuti.” Wanita bisa saja menjadi imam, namun bagi wanita-wanita, atau anak-anak, sebagaimana orang fasik boleh menjadi imam karena kondisi darurat.

Orang Yang Berhak Menjadi Imam

Orang yang paling berhak menjadi imam ialah orang yang paling ahli tentang Al-Qur’an, kemudian paling tahu tentang agama Allah, kemudian orang yang paling besar ketakwaannya, kemudian orang yang paling tua usianya, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Orang yang berhak mengimami manusia ialah orang yang paling tahu (qari’) tentang Kitabullah. Jika bacaan mereka sama, maka siapa yang tahu tentang sunnah. Jika pengetahuan mereka terhadap sunnah sama saja, maka siapa diantara mereka yang paling dulu hijrah. Jika hijrah mereka sama, maka siapa di antara mereka yang paling tua usianya.” (Diriwayatkan Muslim).

Selama tidak ada penguasa di antara jama’ah, dan tidak ada tuan rumah, maka orang yang memiliki kriteria diatas berhak menjadi imam daripada orang lain, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang mengimami orang lain dirumahnya dan mengimami penguasa kecuali dengan izinya.” Hadits tersebut dengan susunan hadits sebelumnya diriwayatkan Sa’at bin Mansur Rahimahullah.

Hukum Anak Kecil Menjadi Imam

Anak kecil sah menjadi imam pada shalat-shalat sunnah, dan bukan pada shalat-shalat wajib, karena orang yang shalat baginya wajib tidak boleh shalat di belakang orang yang shalat baginya sunnah, sebab shalatnya anak kecil adalah sunnah. Jadi ia tidak sah menjadi imam pada shalat-shalat wajib, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda “Janganlah kalian berbeda dengan imam kalian.” Diantara bentuk perbedaan ialah orang yang wajib shalat mengerjakan shalat dibelakang orang yang shalat baginya adalah sunnah.

Imam Syafi’I Rahimahullah tidak sependapat dengan pendapat jumhur ulama. Ia berpendapat bahwa anak kecil boleh menjadi imam pada shalat-shalat wajib, berdasarkan hadits riwayat Amr bin Salamah di mana di dalamnya Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada kaumnya,”Orang yang mengimami kalian ialah orang yang paling qari’ diantara kalian.”

Amr bin Salamah berkata,”Aku orang yang paling qari’,padahal aku baru berusia tujuh tahun.” Jumhur ulama berkata bahwa hadits yang dijadikan dalil Imam Syafi’I adalah dhaif (lemah).

Menurut jumhur ulama, taruhlah misalnya hadits tersebut shahih, maka bisa saja nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak melihat kalau Amr bin Salamah menjadi imam bagi kaumnya, karena mereka tinggal di padang pasir yang jauh dari Madinah.

Hukum Imam Wanita

Wanita sah menjadi imam bagi jama’ah wanita, dan imam wanita berdiri di tengah-tengah mereka. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam mengunjungi Ummu Waraqah dan mengizinkannya menyuruh orang adzan di rumahnya agar ia bisa shalat dengan keluarganya. (Diriwayatkan Abu Daud. Hadits ini shahih).

Hukum Imam Orang Buta

Orang buta sah menjadi imam, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam pernah menunjukkan Ibnu Ummi Maktum yang buta hingga dua kali menjadi pemimpin sementara di Madinah, kemudian Ibnu Ummi Maktum mengimami kaum muslimin. (Diriwayatkan Abu Daud. Hadits ini shahih).

Hukum Imam Orang Yang Tayammum

Orang yang tayammum sah menjadi imam bagi orang yang wudlu, karena Amr bin Al-Ash pernah shalat dengan anak buahnya dalam keadaan tayammum, sedang anak buahnya dalam keadaan wudlu. Hal tersebut dilaporkan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dan beliau tidak memungkirinya. (Diriwayatkan Ibnu Daud, hadits ini shahih).

Hukum Imam Musafir

Musafir sah menjadi imam. Hanya saja jika orang mukim (penduduk setempat) shalat di belakang musafir, ia harus menyempurnakan shalatnya setelah imam musafir tersebut, sebab Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam shalat bersama orang-orang Makkah sebagai seorang musafir, dan bersabda kepada mereka, ”Hai orang-orang Makkah, sempurnakan shalat kalian, karena kita orang-orang musafir.” (Diriwayatkan Malik).

Jika seorang musafir shalat di belakang orang mukim, ia sempurnakan shalat bersamanya, karena Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma pernah ditanya tentang menyempurnakan shalat di belakang orang mukim, maka ia menjawab, “Itu sunnah Abu Al-Qasim (Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam).” (Diriwayatkan Ahmad).

Letak Makmum Bersama Imam

Jika seseorang mengimami satu makmum, maka satu makmum tersebut berdiri di sebelah kanan imam. Begitu juga jika wanita mengimami satu orang wanita, maka makmum satu wanita tersebut berdiri di sebelah kanan imam wanita. Jika seseorang mengimami satu orang atau lebih, maka mereka berdiri di belakangnya. Jika makmum terdiri dari jama’ah laki-laki dan jama’ah wanita, maka jama’ah laki-laki berdiri di belakang imam, dan jama’ah wanita berdiri di belakang jama’ah laki-laki. Jika seseorang mengimami satu orang laki-laki, dan satu orang wanita, maka makmum laki-laki kendati masih kecil berdiri di samping imam, dan wanitanya berdiri di belakang keduanya, karena dalil-dalil berikut:

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Shaf orang laki-laki yang paling baik ialah shaf terdepan, dan shaf mereka yang paling buruk ialah shaf terbelakang. Shaf wanita yang paling baik ialah shaf terbelakang, dan shaf wanita yang paling buruk ialah shaf terdepan.”(Diriwayatkan Muslim).

Karena riwayat “Aku shalat di sebelah kiri Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau memutarnya ke sebelah kanan beliau, kemudian Jabbar bin Sakhr datang dan berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian beliau memegang kedua-duanya dengan tangannya dan mendirikan keduanya dibelakang beliau. (Diriwayatkan Muslim).

Karena Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam shalat bersama denganku, dan ibuku. Beliau mendirikanku di sebelah kanannya, dan mendirikan ibu di belakang kita. (Diriwayatkan Muslim).

Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, “Aku dan anak yatim berdiri di belakang Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, sedang wanita dibelakang kami.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Sutrah (Pembatas) Imam adalah Sutrah (Pembatas) bagi Makmum

Jika imam shalat di depan Sutrah (pembatas), maka makmum tidak membutuhkan sutrah (pembatas) lagi, Tombak ditancapkan untuk Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau shalat menghadap tombak tersebut dan tidak memerintahkan sahabat meletakkan sutrah (pembatas) lagi. (Muttafaq Alaih).

Kewajiban Mengikuti Imam

Makmum wajib mengikuti imamnya, haram mendahuluinya, dan makruh bergerak bersamanya. Jika makmum mendahului imam dalam takbiratul ihram, ia harus mengulang takbiratul ihramnya, dan jika tidak mengulanginya maka shalatnya batal. Jika ia mendahului imam dalam ruku’, atau mengangkat kepala dari ruku’, atau sujud, atau mengangkat kepala dari sujud, maka ia harus kembali pada posisi imam agar ia bisa ruku’ dan sujud setelahnya. Itu semua karena dalil-dalil berikut:

Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya imam itu ditunjuk untuk diikuti maka jangan berbeda dengannya. Jika ia telah bertakbir, maka bertakbirlah kalian. Jika ia ruku’ maka ruku’lah kalian. Jika ia berkata, ‘Sami’allahu liman hamidah,’katakan,’Allahumma rabbana lakal hamdu.’Jika ia telah sujud, maka sujudlah. Dan jika ia shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian semua dengan duduk.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidakkah salah seorang dari kalian takut jika ia mengangkat kepalanya sebelum imam maka Allah merubah kepalanya seperti kepala keledai, atau Allah merubah bentuknya seperti bentuk keledai.” (Muttafaq Alaih).

Pengangkatan Imam terhadap Makmum karena Udzur

Jika disela-sela shalatnya, imam ingat bahwa ia hadats, atau hadats terjadi padanya, atau hidungnya mengeluarkan darah, atau ia terganggu oleh sesuatu hingga tidak bisa meneruskan shalatnya, maka ia diperbolehkan mengangkat salah satu dari makmum dibelakangnya untuk meneruskan shalat bersama makmum, kemudian ia pergi, karena Umar bin Khaththab “Radhiyallahu Anhu mengangkat Abdurrahman bin Auf menjadi imam menggantikan dirinya ketika ia ditikam sedang ia menjadi imam shalat. Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu juga mengangkat orang lain menjadi imam menggantikan dirinya karena hidungnya mengeluarkan darah.

Kewajiban Imam Meringankan Shalat

Imam disunnahkan memperpendek shalat kecuali pada raka’at pertama jika ia berharap agar makmum tidak tertinggal, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam pernah memanjangkannya. Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian shalat dengan manusia hendaklah ia meringankan (memperpendek) shalatnya, karena pada mereka terdapat orang lemah, orang sakit, dan orang tua. Jika ia shalat untuk dirinya sendiri, silahkan ia memanjangkannya semaunya.” (Muttafaq Alaih).

Hukum Keimaman Orang Yang tidak Disukai Para Makmum

Seseorang dimakruhkan mengimami manusia sedang mereka tidak menyukainya, jika ketidaksukaan mereka itu berdasarkan alas an agama, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tiga orang yang shalatnya tidak diangkat dari atas kepala mereka sejengkal pun; orang yang mengimami manusia sedang mereka tidak menyukainya, wanita yang dimurkai suaminya semalam suntuk, dan dua saudara yang saling bermusuhan.” (Diriwayatkan Ibnu Majah).

Siapa Yang Berdiri di Belakang Imam dan Pindah Tempatnya Imam setelah Salam.

Orang yang berilmu dan berkedudukan mulia disunnahkan berdiri di belakang imam, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Hendaklah yang berdiri di belakangku ialah orang-orang yang berakal di antara kalian.” (Diriwayatkan Muslim).

Selain itu, imam setelah salam disunnahkan berpindah dari tempat shalatnya dari sebelah kanan dengan menghadapkan wajahnya kepada para makmum, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam berbuat seperti itu. Abu Daud, dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Qabishah bin Hulab yang berkata, “Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam mengimami kita, kemudian beliau menghadap dari orang-orang yang ada disebelahnya, sebelah kanan dan kiri ”

Meluruskan Shaf

Imam dan makmum disunnahkan meluruskan shaf-shaf shalat hingga terlihat lurus, karena dalil-dalil berikut: Jika Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk mengimami kaum Muslim, beliau menghadap kea rah mereka dan bersabda, “Rapatkan kalian, dan luruslah.”

Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Luruskan shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat.” (Muttafaq Alaih).

Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Hendaklah kalian meluruskan shaf kalian, atau (kalau tidak) Allah akan membuat berbeda wajah kalian.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).

Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Tidak ada langkah yang paling besar pahalanya dari langkah yang dilangkahkan seseorang ke celah di shaf kemudian ia menutupinya.” (Diriwayatkan Al-Bazzar.).

Kondisi Masbuq (Orang Yang Tertinggal Shalat) Masuk Bersama Imam

Jika orang Muslim memasuki masjid dan melihat shalat telah dimulai, ia harus segera meniru gerakan imam apa pun bentuknya yang ia lihat: Ruku’ sujud, duduk, dan berdiri, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian mendatangi shalat, dan imam sedang berada pada salah satu kondisi, hendaklah ia berbuat seperti diperbuat imam.” Hadits di atas diriwayatkan At-Tirmidzi, dan pada sanadnya terdapat kelemahan. Hanya saja, jumruh mengamalkannya karena hadits tersebut diperkuat hadits-hadits lainnya.

Ruku’ Dihitung Satu Raka’at

Jika seseorang mendapati imam ruku’ kemudian ia ruku’ bersamanya sebelum imam mengangkat kepalanya dari ruku’, maka ia dihitung mendapatkan satu raka’at, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian mendatangi shalat, dan kami sedang sujud maka sujudlah, namun kalian jangan menghitung sujud tersebut (sebagai satu raka’at). Dan barangsiapa mendapati ruku’, maka ia mendapatkan satu raka’at.” (Diriwayatkan Abu Daud).

Mengganti Raka’at Yang Tidak Didapatkan setelah Imam Salam

Jika imam telah salam, maka makmum yang ketinggalan berdiri mengganti raka’at yang ia belum kerjakan. Jika ia mau, maka ia jadikan raka’at yang belum ia kerjakan itu sebagai akhir shalat, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Apa yang kalian dapatkan maka shalatlah, dan apa yang tidak kalian dapatkan maka sempurnakanlah.” (Diriwayatkan Muslim).

Misalnya seseorang mendapatkan satu raka’at shalat Maghrib bersama imam, maka ia berdiri mengerjakan dua raka’at sisanya: Pada raka’at pertama ia membaca Al-Fatihah dan surat Al-Qur’an, sedang pada raka’at kedua cukup membaca Al-Fatihah kemudian tasyahhud. Jika ia mau, ia boleh menjadikan raka’at yang tidak ia dapatkan bersama imam itu sebagai awal shalatnya, karena Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Dan apa yang hilang dari kalian, maka gantilah.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).

Misalnya, seorang Muslim tertinggal shalat Maghrib satu raka’at, maka setelah imam mengucapkan salam, ia berdiri dengan membaca Al-Fatihah dan surat dengan suara nyaring, kemudian bertasyahhud, dan salam. Sebagian ulama berpendapat bahwa menjadikan raka’at yang didapatkan makmum dari imam sebagai raka’at pertamanya itu lebih kuat.

Bacaan Makmum di Belakang Imam

Bacaan tidak diwajibkan kepad makmum pad shalat-shlat ​jariyyah, dan makmum disunnahkan diam, karena bacan imam sudah cukup baginya, karena dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Barangsiapa mempunyai imam, maka bacaan imam adalah bacaan baginya.” (Diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah).

Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Kenapa aku harus melawan Al-Qur’an?” Orang-orang pun berhenti membaca apa yang dibaca Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dengan suara nyaring.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi).

Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, “Sesungguhnya imam diangkat untuk diikuti. Jika ia telah bertakbir, maka bertakbirlah. Jika ia membaca, maka diamlah.” (Diriwayatkan Muslim).

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: