Sejarah Islam Sirah Nabawiyah [Lengkap] – Masyarakat Arab Jahiliyah

Sejarah Islam Sirah Nabawiyah [Lengkap] – Masyarakat Arab Jahiliyah

Sejarah Islam – Bertemu lagi dalam artikel Apdetinfo.com. Kali ini admin ingin berbagi tentang sejarah islam yang diambil dari buku Sirah Nabawiyah. Pada artikel ini admin akan berbagi tentang kondisi masyarakat Arab pada masa jahiliyah.

Sejarah Islam sirah nabawiyah

Kondisi Sosial

Ditulis di dalam catatan Sejarah Islam,di buku sirah nabawiyah Bangsa Arab mempunyai beberapa kelompok masyarakat dengan kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. Kalangan Bangsawan Bangsa Arab sangat mengunggulkan hubungannya dengan keluarga. Merekan memprioritaskannya dan menjaganya sekalipun harus menggunakan peperangan. Tidak jarang pedang terhunus dan darah tertumpah untuk menjaga hubungan keluarga.

Apabila seseorang ingin menjadi terpandang dan dipuji karena kemuliaan dan keberaniannya oleh Bangsa Arab, dia harus menjadi pembicaraan kaum perempuan. Ketika ada perempuan yang menghendaki peperangan dia dapat mengumpulkan kabilah-kabilah untuk melakukan peperangan. Begitu juga Sebaliknya, dia dapat membuat perdamaian diantara kabilah-kabilah tersebut. Sekalipun demikian, seorang laki-laki masih dianggap sebagai pemimpin di tengah-tengah keluarga, yang tidak dapat dibantah dan seluruh perkataannya dan perbuatannya harus diikuti.

Hubungan antara laki-laki dan perempuan harus melewati persetujuan dari wali perempuan. Karena seorang perempuan tidak mempunyai hak untuk menentukan pilihannya sendiri. Begitulah gambaran umum masyarakat bangsawan Arab.

Sementara kelas masyarakat lainnya mempunyai aneka ragam budaya. Penulis tidak dapat menjelaskannya secara mendetail. Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwa ada empat macam pernikahan pada masa Jahiliyah:

1. Pernikahan yang terjadi secara spontan.

Ketika seorang laki-laki mengajukan lamaran kepada wali perempuan, dia dapat menikahi wanita tersebut setelah memberikan mas kawin pada saat itu juga.

2. Pernikahan Istibdha’

Seorang laki-laki dapat memerintahkan pada istrinya yang baru suci dari haid untuk menemui seseorang untuk berkumpul bersamanya. Dia tidak menggaulinya dan tidak menyentuhnya, sampai ada kejelasan istrinya hamil dari orang yang diminta mengaulinya. Ketika sudah terdapat kejelasan tentang kehamilannya, maka suami dapat akan mengambil lagi istrinya jika dia menghendaki. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan seorang anak yang baik dan pintar. Pernikahan ini dulu disebut dengan nikah istibdha’.

3. Pernikahan Poliandri.

yaitu beberapa orang laki-laki yang berjumlah tidak lebih dari sepuluh orang mengumpuli seorang perempuan. Setelah perempuan itu melahirkan bayinya, maka beberapa hari kemudian dia memanggil seluruh laki-laki yang sebelumnya berkumpul dengannya. Mereka tidak dapat menolaknya. Lalu perempuan tersebut dapat menentukan siapakah yang dia inginkan untuk menjadi ayah bayi tersebut.

4. Beberapa laki-laki mendatangi perempuan yang dikehendakinya.

Perempuan tersebut juga disebut sebagai pelacur. Mereka akan memasang tanda khusus di depan pintu untuk menandai bagi laki-laki yang ingin mengumpulinya. Apabila pelacur ini hamil dan melahirkan anak dia akan mengundang semua laki-laki yang sebelumnya menggaulinya. Setelah seluruh laki-laki tersebut berkumpul maka diselenggarakan undian. Bagi yang mendapat undian, dia harus mengambil anak itu dan menjadikannya sebagai anaknya.

Pada masa jahiliyah laki-laki dan perempuan dapat saling bersatu dalam berbagai peperangan. Pihak yang menang pada pertempuran antar kabilah menjadikan para perempuan pihak yang kalah sebagai tawanan dan memperlakukan menurut kemauannya. Sedangkan anak-anak mereka akan mendapatkan kehinaan selama hidupnya.

Kebiasaan Masyarakat Arab Jahiliyah

Poligami menjadi kebiasaan yang sudah umum dikalangan Bangsa Arab. Pada masa Jahiliyah poligami dilakukan dengan tanpa ada batasan. Laki-laki bisa mempunyai istri berapa pun jumlahnya. Bahkan mereka dapat menikahi dua perempuan yang saling bersaudara. Mereka juga dapat menikahi janda dari ayahnya, baik karena dicerai atau ditinggal mati (Abu Daud, Kitahun-Nikah, bab wujuhun-nikah al-lati kana yatnakahu biha ahlul-jahiliyah. Hal ini seperti disebutkan dalam Al-Qur’an, surat An-Niasa’: 22-23.)

Tidak hanya terjadi dilapisan tertentu atau golongan tertentu, perzinaan mewarnai setiap lapisan masyarakat. Kecuali hanya segelintir oang dari laki-Iaki dan perempuan yang masih mempunyai jiwa yang baik. Mereka sadar untuk tidak mengikuti dalam kehinaan tersebut. Menurut persepsi umum pada zaman Jahiliyah, perzinaan ini bukanlah suatu aib yang mengotori keturunan. Abu Daud meriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dia berkata, “Seorang laki-laki berdiri kemudian berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya Fulan adalah anakku, karena aku dulu pernah menggauli seorang budak perempuan pada masa Jahiliyah.” Lalu beliau bersabda, “Tidak ada seruan itu dalam Islam. Urusan Jahiliyah sudah punah.”

Ada juga kebiasaan di antara mereka yang mengubur hidup-hidup putrinya karena takut aib. Atau membunuh anak laki-laki mereka karena takut miskin kelaparan. Masalah ini seperti disebutkan di dalam Al-qur’an, “Dan, janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepada kalian dan kepada mereka.” (AI-An’am: l5l). Juga disebutkan di ayat lain dalam Al-qur’an, pada surat An-Nahl: 58-59, AI-Isra’: 3l, dan At-Takwir: 8.

Akan tetapi hal tersebut bukan menjadi kebiasaan yang umum di masyarakat. Bagaimana pun juga mereka membutuhkan anak laki-lakinya untuk melindungi diri dari serangan musuh. Sementara pergaulan seorang laki-laki saudaranya atau kerabatnya sangatlah dekat. Mereka hidup untuk fanatisme kabilah dan mereka juga rela mati karenanya. Adanya dorongan spiritual untuk mengadakan perkumpulan dalam sebuah kabilah sangatlah kuat, membuat semakin menambah fanatisme tersebut. Mereka menjalani kehidupan dengan istilah yang berbunyi, “Tolonglah saudaramu, yang berbuat zhalim ataupun yang dizhalimi”.

Persaingan dalam perebutan pengaruh kekuasaan dan masalah kehormatan sering memicu peperangan antar kabilah. Padahal sebenarnya mereka berasal dari satu ayah dan ibu, seperti yang kita tahu perpecahan antara suku Aus dan Khazraj. Mereka memiliki kekuatan berbeda-beda dalam peperangan. Hanya saja dengan ketakutan dan keengganan untuk melanggar tradisi dan kebiasaan mempertemukan agama dan khurafat bisa memadamkan api peperangan dan perselisihan di antara mereka.

Secara umum, kondisi sosial mereka bisa dibilang lemah dan buta. Kebodohan mewamai semua unsur kehidupan. Khurafat tidak dapat dilepaskan, manusia hidup seperti hewan. Perempuan diperjualbelikan dan tidak jarang diperlakukan layaknya seperti benda mati. Hubungan di tengah-tengah umat sangat rapuh. Kekuasaan dipenuhi dengan kekayaan yang bersumber dari rakyat.

Kondisi Ekonomi

Perdagangan menjadi sarana yang paling umum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Bangsa Arab. Jalur perdagangan hanya dapat dikuasai jika sanggup mngendalikan keamananan dan perdamaian. Sedangkan keamanan tidak terwujud di jazirah Arab kecuali hanya pada bulan-bulan suci. Pada bulan-bulan suci pasar-pasar Arab yang sangat terkenal seperti Ukazh, Dzil-Majaz, Majinnah dan lainnya dibuka. Sedangkan untuk bagian kerajinan, Bangsa Arab adalah bangsa yang tidak mengenalnya. Hasil kerajinan yang ada di Arab seperti misalnya kerajinan jahit-menjahit, menyamak kulit dan lainnya berasal dari Yaman, Hirah dan pinggiran Syam.

Kondisi Akhlak Pada Masa Jahiliyah

Kita tidak bisa memungkiri kalau di tengah-tengah kehidupan orang-orang Jahiliyah terdapat banyak hal-hal hina, amoralitas dan masalah-masalah yang tidak dapat diterima oleh akal sehat. Meskipun begitu mereka masih mempunyai akhlak-akhlak yang terpuji. Di antaranya adalah:

1. Kedermawanan dan Kemurahan Hati

Mereka saling berlomba membanggakan diri pada masalah kedermawanan dan kemurahan hati. Sebagian syair dapat dipenuhi dengan pujian dan sanjungan terhadap kedermawanan ini. Ada kalanya seseorang didatangi tamu yang kelaparan pada saat hawa dingin menggigit tulang. Sementara saat itu dia tidak mempunyai kekayaan apa pun selain seekor onta yang menjadi penopang hidupnya. namun rasa kedermawanan dapat menggetarkan dirinya, lalu dia pun bangkit menghampiri onta satu-satunya dan menyembelihnya agar dia dapat menjamu tamunya.
Mereka terbiasa untuk membuat puji-pujian dan membanggakan diri di hadapan orang lain terutama dari kalangan para penguasa dan pemimpin pada masalah tersebut. Di antara pengaruh dari kedermawanan, mereka terbiasa merasa bangga karena minum khamr. karena hal tersebut dianggap sebagai sebuah cara untuk menampilkan kedermawanan dan merupakan cara termudah untuk menunjukkan pemborosannya. Maka tidak heran kalau mereka menyebut pohon anggur sebagai al-karam (kedermawanan), sedangkan khamr yang dibuat dengan buah anggur disebut bintul-karam (putri kedermawanan).

Selain minum khamr, nilai kedermawanan mereka dapat dilihat dari kebiasaan main judi. Mereka menganggap berjudi adalah sebuah cara untuk mengekspresikan kedermawanan. karena dari untung judi itulah mereka bisa memberikan makan kepada orang-orang miskin.

2. Kebiasaan Untuk Memenuhi janji.

Menurut mereka. janji adalah hutang yang harus dibayar. Kebanyakan mereka lebih suka untuk membunuh anaknya sendiri dan membakar rumahnya daripada meremehkan janji.

3. Pantang Mundur Jika Menginginkan Sesuatu.

Jika mereka menginginkan sesuatu yang terdapat kemuliaan di dalamnya, maka tak ada sesuatu yang bisa menghadang atau mengalihkannya.

Leave a Reply

Close Menu
%d bloggers like this: